Minggu, 16 Maret 2008
Essay: Why Write Poetry?
Last edited: Saturday, January 27, 2007
Posted: Friday, October 13, 2006
Why Write Poetry?
I can only speak for myself, but I'm sure other poets would understand. A friend once asked me why I write poetry. Judging by the pinched look on her face, she might as well have been asking why I juggle poisonous snakes, or worse, why I braid germy fly swatters � well maybe the look wasn't quite that bad, but when she asked the question, she definitely had the look of someone who was, at the very least, sucking on lemons.
While I�m convinced it�s not a disease, it just might be an addiction � and an addiction with no twelve-step program for recovery (thank God). But based on her surprising question, I found I had to ask myself, why do I write poetry? I mean other than the obvious, which is that I enjoy writing poetry, and if that�s an addiction, well profound as it is, then I enjoy my addiction. In fact, I actually revel in it, scribbling thoughts and ideas wherever I am, on whatever I can find to write on, with complete and total abandon.
But to be fair and honest, I should have told my friend that to hold back a poem is like trying to hold in a sneeze. When you finally allow it to come out, it just feels good. Again, other poets would probably understand what I mean ...
To my friend, I simply said there are things inside that I must get out. They�re uncomfortable staying where they are. Another way to state it is, it�s like having a mosquito bite that you can�t quite reach. When you finally find someone who will scratch it for you, it just feels good.
So, I�ve decided I�ll live with my addiction, no matter what friends think. But geez oh man, I�ve got to make this short ... I feel a poetic sneeze coming on and it�s gonna feel so good when I finally let it out ...
ROBERT FORST POETRY
| THE ROSE FAMILY | |||||
| |||||
larut sajak bulan
dalam air bening sehalaman
penuh. bintang-bintang
berkelap. tasbih berkelip
2006
DOA PERANTAU
o..Tuhan, ke mana jalan pulang?
ke tempat ibu tak kehilangan kepala untuk di belai
ke tempat bapak tak kehilangan tenaga untuk menggendong bagaimana ceritanya sampai kita tersesat di rumah tanpa suara-nya? dan sulit mengadu atas semua yang tak dimengerti?
hidup bagi kita restu yang terpaksa lahir tanpa ada yang menginginkannya saat diam-diam Tuhan menghindar ketika diam-diam orang-orang pun menjauh
maka kita tak sempat mengenalnya kecuali sebagai sejarah yang mungkin saja salah
tolong, Tuhan … sekali ini beri tahu jalan pulang kendati setelah itu mungkin saja yang kita pilih terdampar 8 agustus
2007
ORANG-ORANG LORONG
saat itu,
tubuh-tubuh merah bergeletakkan di atas tanah dan kemerdekaan itulah bunga-bunga yang ditaburkan sejarah, terbang do’a yang dilepaskan sejarah, dan air mata yang menetes dari keharuan sejarah.
burung-burung bangkai memutar sejarah dibawa pulang ke sarang ketika kenyang melenggang dan sekarang mimpi adalah sejarah paling indah sebab terjaga sekarang hanya mungkin menyerah kalah
tubuh-tubuh kuyu memikul kayu-kayu
langkah-langkah ragu atas hidup yang kaku
ketika kebenaran dalam tertimbun lumpur mimpi-mimpi : sesuatu yang mengendap dari kegamangan sikap
“hendak dibawa ke mana ini hidup yang sisa?!”
kita hanya bisa menggeleng antara keinginan dan kenyataan antara kebahagiaan dan kesedihan
kehidupan dan kematian
“kita orang-orang lorong!”
kecuali kalah, berpura-pura menang.
kecuali terjajah, berpura-pura merdeka!
dan kecuali mati, berpura-pura hidup.
8 agustus 2007
TABIK
"Pendidikku..."
Mungkin ia sudah semakin renta
Ketika aku justru beranjak dewasa dan tangguh.
"Kini lariku cepat, Pak. Dan pandai mengarang."
Aku sudah bisa mengalahkan harimau bahkan kancil yang cerdik.
Teramat berangasan ini zaman,
"Tapi denganmu, Pak.
Suluh kayu
Di dadaku kau bakar ubi jepang dan sate ayam."
teramat singkat ini kehidupan,
tapi dengannya
malam yang panjang
1001 kisah belum pula selesai
tapi, ... di manakah ia sekarang
Ketika rindu mencium tangannya
Yang mungkin mulai letih menjinjing tas kulit kesayangan
tak terkejar tak terkarang
Telah segalanya ia terangkan
Segalanya. Kecuali alamat tempat tinggalnya
Telah aku tumpuk harta, kupupuk nama
Tapi di mana tak terbayar tak terkenal
Pak, kalau aku bisa menang dengan satu permintaan
yang diajukan aladin kepada jin penunggu lampu,
aku titip salam
untukmu yang tak mungkin terkalahkan.
2007
Jumat, 14 Maret 2008
TALI-TALI IMITASI
1
dulu, tali warna warni menghias seperti pelangi
di air terjun melengkung indah bergandengan
dengan legenda tujuh bidadari mandi telanjang
di antara bebatuan yang berumur tahun ratusan
kadang tali itu menjelma jalanan
yang dilalui orang-orang beragam kepentingan
dan sesekali remaja, orang berusia dewasa
bergandengan menyusuri trotoar ke tempat kencan
tak jarang tali itu membentang
menenun sendiri jadi permadani
menghiasi ruang tamu orang-orang terhormat
atau menjadi sungai
yang menjadi unsur penting kehidupan
perkampungan bawah jembatan
ia pernah melingkar cantik di pergelangan tangan,
di leher, dan jari manis kita
sesekali kita bertukar
kita selalu memakainya seperti azimat saja
sampai bekas putih melingkar di jari,
pergelangan tangan, dan leher kita
ah, sebuah perjalanan romantis
terbentang terkait waktu dan ruang
hampir-hampir kita menyangka tidak sedang hidup
di dunia yang kompleks kosakata
"inilah sebagian keindahan sorgawi"
batin kita sebelum angan-angan berubah
menjadi mimpi tiap malamnya
tak ada kesal: kita berkelakar
tak ada marah: kita bergurau
tak ada sedih: kita saling menyebalkan
tak ada bosan: kita bergantian menyanyi lagu kanak-kanak
tali yang menghiasi kita
"melengkungi cakrawala."
bayang kita saat berdua tiduran di atas tikar plastik bermotif bunga
di kaki gunung antra pinus yang juga tegang terangsang keelokannya
tali itu benar-benar terekam tandas dalam kualitas manusiawiku
terukir dalam
sekaligus benar-benar mengkilap terplitur rata
2
namanya dunia memang serba ada kecuali kepastian dan apa pun itu keabadian
siapapun pasti terharu sekaligus terpaku
tak mampu menyihir jadi seenaknya
saat bahagia kita berharap semuanya abadi
saat terluka tidak aneh terus berupaya
sampai di situ saja
kita memelihara saat penuh anggur ria
dan mencerabuti pepohonan derita
dengan harap bisa mengambil umbinya
itulah sifat wajar manusia
sehingga keterpisahan dari hal yang telah begitu akrab dan menyenangkan,
begitu tampak mengerikan
kurang lebih
dari kematian yang tak mungin dielakkan
tak sedikit tali yang akhirnya berubah
menggantung di tiang eksekusi
banyak juga yang hanya tercecer,
sebagian hanyut di sungai entah kemana
dan mati dini pun akhirnya harus terjadi
"ini kecelakaan! ini kecelakaan!" kita menjuduli perihnya kenyataan
dan kemudian mendikte haram
pada setiap `kelahiran" yang ada
kita mencemooh setiap geriknya
menghina segala perbuatannya
menjauhinya demi keamanan
tanpa mencurigai sedikitpun
barangkali ada sebuah nilai yang mungkin
dapat menambal kekosongan lainnya.
3
hari ini kita sudahi
menatap jejak tali yang pucat tak dapat menggantikan keterpukauan pada pelangi yang pernah kita sembur dengan air kumur
kecuali mengulur-ulur udzur
menggusur-gusur mundur
kita akhiri menangisi gambar
yang pernah terekam tandas yang kini kabur
kita berhenti meratapi ukiran
yang tergurat dalam dan mengkilap
yang kini menjadi got
tempat kita membuang banyak cerita
kita musti segera mengembalikan pada tempat semula
mengunci gembok gudang tua
dan biarlah menjadi museum saja
sesekali kita boleh mengenang keantikannya
ketika bosan menarungi hidup yang teramanatkan
tanpa menjadi pecundang pun kita sudah semakin tua
terlalu setia waktu pada ujungnya
sehingga kita tak mungkin menggodanya,
merayunya agar berselingkuh
dan menumpahkan segalanya untuk kita
lebih baik kita mempermainkan ekor cecak yang tanggal beberapa saat lalu
tidak menutup kemungkinan juga
setelah kita keringkan dan awetkan
dapat menjadi gelang, kalung,
dan cincin
meski jauh berbeda rupa
dengan yang pernah kita sedihkan
masih banyak kegunaan kita berhubungan
selain meributkan soal perhiasan:
soal cincin, gelang, atau kalung
kita bisa bersama lagi tanpa harus meributkan
perbedaan pandangan
sebab perbedaanlah tali sebenarnya
dan kekayaan tak palsu
sakit hati, rasa benci, dan kaidah emosi lainnya
jika kita banggakan akan hanya menutup kesejalanan, kesesuaian, dan akhirnya pertalian
di manapun ditempatkan.
sungguh bumi meski tampak bulat,
tak rata permukaannya.
2005
TITO YULIANTO, lahir di Kuningan, 1 Juli 1981. Alumnus S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan. Kini tinggal di Cilaja, Kramatmulya, Kab. Kuningan.
http://beta.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=3853