Minggu, 16 Maret 2008

WIRID MALAM I

larut sajak bulan
dalam air bening sehalaman

penuh. bintang-bintang
berkelap. tasbih berkelip

2006




DOA PERANTAU

o..Tuhan, ke mana jalan pulang?
ke tempat ibu tak kehilangan kepala untuk di belai
ke tempat bapak tak kehilangan tenaga untuk menggendong bagaimana ceritanya sampai kita tersesat di rumah tanpa suara-nya? dan sulit mengadu atas semua yang tak dimengerti?
hidup bagi kita restu yang terpaksa lahir tanpa ada yang menginginkannya saat diam-diam Tuhan menghindar ketika diam-diam orang-orang pun menjauh
maka kita tak sempat mengenalnya kecuali sebagai sejarah yang mungkin saja salah
tolong, Tuhan … sekali ini beri tahu jalan pulang kendati setelah itu mungkin saja yang kita pilih terdampar 8 agustus

2007





ORANG-ORANG LORONG

saat itu,
tubuh-tubuh merah bergeletakkan di atas tanah dan kemerdekaan itulah bunga-bunga yang ditaburkan sejarah, terbang do’a yang dilepaskan sejarah, dan air mata yang menetes dari keharuan sejarah.

burung-burung bangkai memutar sejarah dibawa pulang ke sarang ketika kenyang melenggang dan sekarang mimpi adalah sejarah paling indah sebab terjaga sekarang hanya mungkin menyerah kalah

tubuh-tubuh kuyu memikul kayu-kayu
langkah-langkah ragu atas hidup yang kaku
ketika kebenaran dalam tertimbun lumpur mimpi-mimpi : sesuatu yang mengendap dari kegamangan sikap

“hendak dibawa ke mana ini hidup yang sisa?!”
kita hanya bisa menggeleng antara keinginan dan kenyataan antara kebahagiaan dan kesedihan
kehidupan dan kematian

“kita orang-orang lorong!”
kecuali kalah, berpura-pura menang.
kecuali terjajah, berpura-pura merdeka!
dan kecuali mati, berpura-pura hidup.

8 agustus 2007
‏




TABIK
"Pendidikku..."


Mungkin ia sudah semakin renta
Ketika aku justru beranjak dewasa dan tangguh.

"Kini lariku cepat, Pak. Dan pandai mengarang."
Aku sudah bisa mengalahkan harimau bahkan kancil yang cerdik.

Teramat berangasan ini zaman,
"Tapi denganmu, Pak.
Suluh kayu
Di dadaku kau bakar ubi jepang dan sate ayam."

teramat singkat ini kehidupan,
tapi dengannya
malam yang panjang
1001 kisah belum pula selesai

tapi, ... di manakah ia sekarang
Ketika rindu mencium tangannya
Yang mungkin mulai letih menjinjing tas kulit kesayangan
tak terkejar tak terkarang

Telah segalanya ia terangkan
Segalanya. Kecuali alamat tempat tinggalnya

Telah aku tumpuk harta, kupupuk nama
Tapi di mana tak terbayar tak terkenal

Pak, kalau aku bisa menang dengan satu permintaan
yang diajukan aladin kepada jin penunggu lampu,
aku titip salam
untukmu yang tak mungkin terkalahkan.

2007



Tidak ada komentar: