Jumat, 14 Maret 2008

TALI-TALI IMITASI

betapa parah nampaknya tak mungkin terjalin tali yang terhubung antara kita…?

1

dulu, tali warna warni menghias seperti pelangi

di air terjun melengkung indah bergandengan

dengan legenda tujuh bidadari mandi telanjang

di antara bebatuan yang berumur tahun ratusan

kadang tali itu menjelma jalanan

yang dilalui orang-orang beragam kepentingan

dan sesekali remaja, orang berusia dewasa

bergandengan menyusuri trotoar ke tempat kencan

tak jarang tali itu membentang

menenun sendiri jadi permadani

menghiasi ruang tamu orang-orang terhormat

atau menjadi sungai

yang menjadi unsur penting kehidupan

perkampungan bawah jembatan

ia pernah melingkar cantik di pergelangan tangan,

di leher, dan jari manis kita

sesekali kita bertukar

kita selalu memakainya seperti azimat saja

sampai bekas putih melingkar di jari,

pergelangan tangan, dan leher kita

ah, sebuah perjalanan romantis

terbentang terkait waktu dan ruang

hampir-hampir kita menyangka tidak sedang hidup

di dunia yang kompleks kosakata

"inilah sebagian keindahan sorgawi"

batin kita sebelum angan-angan berubah

menjadi mimpi tiap malamnya

tak ada kesal: kita berkelakar

tak ada marah: kita bergurau

tak ada sedih: kita saling menyebalkan

tak ada bosan: kita bergantian menyanyi lagu kanak-kanak

tali yang menghiasi kita

"melengkungi cakrawala."

bayang kita saat berdua tiduran di atas tikar plastik bermotif bunga

di kaki gunung antra pinus yang juga tegang terangsang keelokannya

tali itu benar-benar terekam tandas dalam kualitas manusiawiku

terukir dalam

sekaligus benar-benar mengkilap terplitur rata

2

namanya dunia memang serba ada kecuali kepastian dan apa pun itu keabadian

siapapun pasti terharu sekaligus terpaku

tak mampu menyihir jadi seenaknya

saat bahagia kita berharap semuanya abadi

saat terluka tidak aneh terus berupaya

sampai di situ saja

kita memelihara saat penuh anggur ria

dan mencerabuti pepohonan derita

dengan harap bisa mengambil umbinya

itulah sifat wajar manusia

sehingga keterpisahan dari hal yang telah begitu akrab dan menyenangkan,

begitu tampak mengerikan

kurang lebih

dari kematian yang tak mungin dielakkan

tak sedikit tali yang akhirnya berubah

menggantung di tiang eksekusi

banyak juga yang hanya tercecer,

sebagian hanyut di sungai entah kemana

dan mati dini pun akhirnya harus terjadi

"ini kecelakaan! ini kecelakaan!" kita menjuduli perihnya kenyataan

dan kemudian mendikte haram

pada setiap `kelahiran" yang ada

kita mencemooh setiap geriknya

menghina segala perbuatannya

menjauhinya demi keamanan

tanpa mencurigai sedikitpun

barangkali ada sebuah nilai yang mungkin

dapat menambal kekosongan lainnya.

3

hari ini kita sudahi

menatap jejak tali yang pucat tak dapat menggantikan keterpukauan pada pelangi yang pernah kita sembur dengan air kumur

kecuali mengulur-ulur udzur

menggusur-gusur mundur

kita akhiri menangisi gambar

yang pernah terekam tandas yang kini kabur

kita berhenti meratapi ukiran

yang tergurat dalam dan mengkilap

yang kini menjadi got

tempat kita membuang banyak cerita

kita musti segera mengembalikan pada tempat semula

mengunci gembok gudang tua

dan biarlah menjadi museum saja

sesekali kita boleh mengenang keantikannya

ketika bosan menarungi hidup yang teramanatkan

tanpa menjadi pecundang pun kita sudah semakin tua

terlalu setia waktu pada ujungnya

sehingga kita tak mungkin menggodanya,

merayunya agar berselingkuh

dan menumpahkan segalanya untuk kita

lebih baik kita mempermainkan ekor cecak yang tanggal beberapa saat lalu

tidak menutup kemungkinan juga

setelah kita keringkan dan awetkan

dapat menjadi gelang, kalung,

dan cincin

meski jauh berbeda rupa

dengan yang pernah kita sedihkan

masih banyak kegunaan kita berhubungan

selain meributkan soal perhiasan:

soal cincin, gelang, atau kalung

kita bisa bersama lagi tanpa harus meributkan

perbedaan pandangan

sebab perbedaanlah tali sebenarnya

dan kekayaan tak palsu

sakit hati, rasa benci, dan kaidah emosi lainnya

jika kita banggakan akan hanya menutup kesejalanan, kesesuaian, dan akhirnya pertalian

di manapun ditempatkan.

sungguh bumi meski tampak bulat,

tak rata permukaannya.

2005

TITO YULIANTO, lahir di Kuningan, 1 Juli 1981. Alumnus S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan. Kini tinggal di Cilaja, Kramatmulya, Kab. Kuningan.

http://beta.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=3853

Tidak ada komentar: