betapa parah nampaknya tak mungkin terjalin tali yang terhubung antara kita…?
1
dulu, tali warna warni menghias seperti pelangi
di air terjun melengkung indah bergandengan
dengan legenda tujuh bidadari mandi telanjang
di antara bebatuan yang berumur tahun ratusan
kadang tali itu menjelma jalanan
yang dilalui orang-orang beragam kepentingan
dan sesekali remaja, orang berusia dewasa
bergandengan menyusuri trotoar ke tempat kencan
tak jarang tali itu membentang
menenun sendiri jadi permadani
menghiasi ruang tamu orang-orang terhormat
atau menjadi sungai
yang menjadi unsur penting kehidupan
perkampungan bawah jembatan
ia pernah melingkar cantik di pergelangan tangan,
di leher, dan jari manis kita
sesekali kita bertukar
kita selalu memakainya seperti azimat saja
sampai bekas putih melingkar di jari,
pergelangan tangan, dan leher kita
ah, sebuah perjalanan romantis
terbentang terkait waktu dan ruang
hampir-hampir kita menyangka tidak sedang hidup
di dunia yang kompleks kosakata
"inilah sebagian keindahan sorgawi"
batin kita sebelum angan-angan berubah
menjadi mimpi tiap malamnya
tak ada kesal: kita berkelakar
tak ada marah: kita bergurau
tak ada sedih: kita saling menyebalkan
tak ada bosan: kita bergantian menyanyi lagu kanak-kanak
tali yang menghiasi kita
"melengkungi cakrawala."
bayang kita saat berdua tiduran di atas tikar plastik bermotif bunga
di kaki gunung antra pinus yang juga tegang terangsang keelokannya
tali itu benar-benar terekam tandas dalam kualitas manusiawiku
terukir dalam
sekaligus benar-benar mengkilap terplitur rata
2
namanya dunia memang serba ada kecuali kepastian dan apa pun itu keabadian
siapapun pasti terharu sekaligus terpaku
tak mampu menyihir jadi seenaknya
saat bahagia kita berharap semuanya abadi
saat terluka tidak aneh terus berupaya
sampai di situ saja
kita memelihara saat penuh anggur ria
dan mencerabuti pepohonan derita
dengan harap bisa mengambil umbinya
itulah sifat wajar manusia
sehingga keterpisahan dari hal yang telah begitu akrab dan menyenangkan,
begitu tampak mengerikan
kurang lebih
dari kematian yang tak mungin dielakkan
tak sedikit tali yang akhirnya berubah
menggantung di tiang eksekusi
banyak juga yang hanya tercecer,
sebagian hanyut di sungai entah kemana
dan mati dini pun akhirnya harus terjadi
"ini kecelakaan! ini kecelakaan!" kita menjuduli perihnya kenyataan
dan kemudian mendikte haram
pada setiap `kelahiran" yang ada
kita mencemooh setiap geriknya
menghina segala perbuatannya
menjauhinya demi keamanan
tanpa mencurigai sedikitpun
barangkali ada sebuah nilai yang mungkin
dapat menambal kekosongan lainnya.
3
hari ini kita sudahi
menatap jejak tali yang pucat tak dapat menggantikan keterpukauan pada pelangi yang pernah kita sembur dengan air kumur
kecuali mengulur-ulur udzur
menggusur-gusur mundur
kita akhiri menangisi gambar
yang pernah terekam tandas yang kini kabur
kita berhenti meratapi ukiran
yang tergurat dalam dan mengkilap
yang kini menjadi got
tempat kita membuang banyak cerita
kita musti segera mengembalikan pada tempat semula
mengunci gembok gudang tua
dan biarlah menjadi museum saja
sesekali kita boleh mengenang keantikannya
ketika bosan menarungi hidup yang teramanatkan
tanpa menjadi pecundang pun kita sudah semakin tua
terlalu setia waktu pada ujungnya
sehingga kita tak mungkin menggodanya,
merayunya agar berselingkuh
dan menumpahkan segalanya untuk kita
lebih baik kita mempermainkan ekor cecak yang tanggal beberapa saat lalu
tidak menutup kemungkinan juga
setelah kita keringkan dan awetkan
dapat menjadi gelang, kalung,
dan cincin
meski jauh berbeda rupa
dengan yang pernah kita sedihkan
masih banyak kegunaan kita berhubungan
selain meributkan soal perhiasan:
soal cincin, gelang, atau kalung
kita bisa bersama lagi tanpa harus meributkan
perbedaan pandangan
sebab perbedaanlah tali sebenarnya
dan kekayaan tak palsu
sakit hati, rasa benci, dan kaidah emosi lainnya
jika kita banggakan akan hanya menutup kesejalanan, kesesuaian, dan akhirnya pertalian
di manapun ditempatkan.
sungguh bumi meski tampak bulat,
tak rata permukaannya.
2005
TITO YULIANTO, lahir di Kuningan, 1 Juli 1981. Alumnus S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan. Kini tinggal di Cilaja, Kramatmulya, Kab. Kuningan.
http://beta.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=3853
Jumat, 14 Maret 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar